Kalbefarma - Beberapa penelitian terbaru dari eritropoietin yang ternyata dapat memberikan pengaruh terhadap aliran darah , konsentrasi nitric oxide (NO) serta pengaruh perbaikan neurologi yang digunakan pada pasca trauma kepala.
Dalam satu penelitian yang pernah dilakukan terhadap eritropoietin untuk efek hemodinamik, yaitu dengan menilai tekanan arteri untuk melihat efek kerusakan pada daerah korteks. Selain itu juga diukur tekanan intrakranial dan aliran darah dengan menggunakan alat Laser Dopler flowmetry (LDF), dan konsentrasi NO diukur dengan alat elektroda NO. Hewan coba yang dipakai untuk penelitian adalah tikus sebanyak 41 ekor yang diberikan eritropoietin sebanyak 5000 unit/kg BB atau diberikan larutan salin secara subkutan 3 kali sehari, setelah kejadian trauma. Hewan yang diterapi dengan salin, L-arginine tetapi tidak diberikan D-arginine yang akan menghasilkan peningkatan konsentrasi NO dan penurunan aliran darah pada daerah yang mengalami trauma. Pada hewan yang diterapi dengan eritropoietin, L-arginine bukan D-arginine pasca kejadian mengalami peningkatan konsentrasi NO dan peningkatan aliran darah di otak. CBF.
Pada penelitian lainnya sebanyak 74 tikus yang diamati kerusakan daerah korteksnya sebesar 3 mm, dan aliran darah 5 m/detik diberikan antara larutan salin atau eritropoietin 5000 unit/kg secara subkutan pada 5 menit, 1 jam, 3 jam, 6 jam, 9 jam atau 12 jam pasca kejadian. Volume memar dan jumlah sel yang berhasil dihitung dari sel sarafnya pada area korteks yang telah diberi tanda yaitu pada daerah hipokampus dan kemudian dinilai pada 2 minggu pasca trauma, didapatkan volume memar menurun pada 5 menit, 1 jam, 3 jam dan 6 jam setelah trauma. Dari data tersebut disimpulkan bahwa pemberian eritropoietin pada kasus trauma memberikan efek sebagai neuroprotektor, dan paling optimal jika diberikan dalam 6 jam sejak kejadian.
Selain penelitian di atas efek neuroprotektif dari eritropoietin juga pernah diteliti melalui berbagai penelitian pada berbagai model penyakit di bidang neurologi, seperti parkinson dan stroke. Pada kasus tersebut hasilnya terbukti baik, dan saat ini mulai dikembangkan di bidang lain, yaitu penelitian pada 30 hewan coba yang mengalami gangguan fungsi motorik dan dicoba diberikan eritropoietin dan dibandingkan dengan kelompok kontrol, dimana dosis eritropoietin adalah 5000 unit/kg dan juga diberikan larutan salin 0,9% (0.5 ml/kg) secara intraperitoneal. Dinilai perubahan pada 24 jam, 48 jam serta 72 jam pasca reperfusi, dimana hasilnya persen area pada serebrum, serebelum dan batang otak pada kelompok yang diberikan eritropoietin sedikit sekali yang mengalami iskemi jika dibandingkan dengan kelompok kontrol (p<0.0001). Selain itu eritropoietin juga lebih baik jika dibandingkan dengan kelompok kontrol dalam perubahan skor neurologi dan histopatologi setelah terjadinya iskemia pada serebral. Kesimpulan penelitian tersebut adalah eritropoietin dapat menurunkan area iskemia pada hewan coba.

KATEGORI
Print Artikel
Kirim ke Teman
Save as PDF