Kapan si Kecil Perlu Memakai Kacamata?

October 6, 2007
Rating : Average Rating : 1.00 From 1 Voter(s)


Bila prestasi sekolah anak tiba-tiba menurun atau Anda mendapat laporan dari guru bahwa anak kerap mendekat ke arah papan tulis, cermatilah. Bisa jadi, anak perlu memakai kacamata.

Mata adalah salah satu indera paling penting bagi manusia. Kelainan pada mata tentu saja sangat mengganggu aktivitas hidup sehari-hari. Sayangnya seringkali gangguan dini pada mata anak luput dari pengamatan orangtua.


Kapan perlu kacamata?
Dr. Tri Rahayu Sp M, dokter spesialis mata yang bekerja di Jakarta Eye Center, mengatakan orangtua perlu mencurigai adanya gangguan pada penglihatan anak jika tajam penglihatan anak mulai tidak maksimal.

Indikasi pertama biasanya berupa keluhan anak soal kesulitan melihat jauh ataiu adanya laporan dari guru tentang perilaku anak yang sering mendekat untuk melihat tulisan di papan tulis. Atau pada saat menonton televisi anak terlihat sering maju mendekat ke arah televisi. “Sayangnya, banyak orangtua yang tidak segera bertindak mengeksplore lebih jauh dengan melakukan pemeriksaan mata. Tapi, malah memarahi anak untuk tidak nonton dekat-dekat,” tutur dokter lulusan FKUI ini.

Bila gangguan ringan ini tidak segera ditangani, sebagai efek lanjutannya, banyak anak yang kemudian mengalami kemunduran dalam prestasi belajar.

Bisa merupakan kelainan turunan
Kelainan mata yang bisa menyebabkan anak membutuhkan kacamata ini umumnya disebabkan karena kelainan refraksi. Kelainan refraksi ini merupakan kelainan sistem optik dimana mata tidak bisa memfokuskan penglihatan (bayangan subjek penglihatan) tepat pada retina mata.

Normalnya, panjang sumbu bola mata harus sama persis dengan kekuatan refraksi. Namun bila kekuatan refraksinya normal tetapi sumbu bola matanya terlalu panjang, maka bayangan akan jatuh di depan retina. Kelainan seperti itu disebut myop dan untuk mengatasinya diperlukan kacamata minus agar mata kembali mampu memfokuskan bayangan subjek penglihatan agar jatuh tepat pada retina.

Salah satu faktor penyebab kelainan myop adalah faktor genetik (keturunan). Diketahui bahwa orangtua yang memiliki sumbu bola mata panjang, kemungkinan besar akan melahirkan anak-anak yang mempunyai sumbu bola mata yang lebih panjang pula dari anak-anak umumnya. Karena itu, orangtua yang berkacamata minus akan cenderung memiliki anak-anak bercamata minus pula.

Faktor pendukung kedua adalah soal etnis. Etnis Cina atau Tionghoa diketahui lebih rentan mengalami myop. Tak heran hampir 40-50% anak-anak di Singapura berkacamata. Bahkan, sampai untuk tingkat mahasiswa, 70% mahasiswa singapura berkacamata.

Faktor ketiga adalah pengalaman visual. Dalam hal ini adanya kejadian berulang yang menyebabkan bayangan tidak jatuh pada retina, misalnya kebiasaan melihat benda dalam jarak terlalu dekat. Melihat disini termasuk saat membaca, menonton televisi atau bekerja di depan komputer.

Pada anak-anak sebenarnya mata masih memiliki kemampuan akomodasi, dimana sekalipun ia tengah melihat dekat mata akan menyesuaikan diri untuk tetap dapat melihat secara fokus. Namun, bila hal ini dilakukan secara berulang dan terus-menerus tubuh sendiri akan memunculkan sinyal kimiawi yang akan memacu perubahan arah pertumbuhan struktur bola mata. Efeknya dinding bola mata anak menjadi lebih lemah dan akhirnya mudah memanjang. Bila ini terjadi, anak pun rentan mengalamai kelainan myop atau dengan bahasa awam menderita minus.

Mitos juice wortel
Bila mata anak sudah terlanjur mengalami minus banyak orangtua percaya bahwa persoalannya bisa diatasi dengan mengkonsumsi wortel dalam jumlah besar. Namun, dokter Tri membantahnya. Menurut istri dari Aryo Gajah Seno ini, hingga saat ini belum ada pengobatan yang dapat menghilangkan minus. Yang ada hanyalah upaya mempertahankan minus agar tidak berkembang cepat. Bahkan untuk kasus anak-anak, karena bola mata mereka masih tumbuh dan bertambah panjang sesuai dengan pertumbuhan badannya, maka seiring pertambahan panjang sumbu bola matanya, minusnya pun akan bertambah.

Karena itu untuk mencegah agar minus tidak bertambah perlu dilakukan koreksi kelainan dengan cara menggunakan kacamata yang tepat. Kedua, mata jangan dipakai terlalu banyak melihat dekat.

Bagi anak-anak, mereka perlu diupayakan mendapat ruangan yang luas saat bermain atau bahkan bermain di luar ruangan. Kecenderungan anak-anak bermain di dalam ruangan akan memicu kerja mata untuk sering melihat sangat dekat, misalnya saat main playstation atau game komputer. “Apalagi sekarasng ada game di handphone. Itu kan jaraknya dekat sekali. Pasti akan memperburuk keadaan,” tambah ibu dari dua orang anak ini.

Pada anak yang sudah lebih besar (>18 tahun) dapat dilakukan operasi untuk mengurangi atau menghilangkan minus. Namun tentu harus dengan berbagai pertimbangan khusus, misalnya minusnya terlalu besar. Bagi anak-anak, operasi hanya bisa dilakukan bila keadaannya sudah cukup berat. Misalnya, di usia 6 tahun tapi minusnya sudah lebih dari 20.

Sementara soal wortel, dia hanya berguna untuk memperbaiki sel-sel retina mata karena di dalam wortel memang terkandung karotenoid yang berfungsi pada metabolisme sel-sel syaraf mata, atau sel retina.

Karena itu, wortel memang tetap harus dikonsumsi dalam dosis yang cukup. Tetapi, tujuannya bukan untuk menghilangkan minus namun sekedar untuk memperbaiki sel-sel retina. Selain itu tetap juga diperlukan keseimbangan nutrisi demi mempertahankan struktur dinding bola mata agar tetap bagus.

“Jadi untuk mencegah bertambahnya minus kacamata, kita tidak cukup hanya minum jus wortel saja yang banyak, tapi semua komponen harus terpenuhi. Bahkan, sampai ke lemak pun harus ada, namun dengan takaran yang cukup,” kata dokter lulusan FKUI ini.

Jangan terlambat
Pertumbuhan sistem penglihatan anak memiliki beberapa fase kritis atau fase yang cepat dan fase yang lambat. Fase pertumbuhan yang pesat berlangsung pada usia anak 3 tahun ke bawah. Dari umur 3 tahun sampai umur 6 tahun masih ada perkembangan, namun sudah mulai melambat. Di atas 6 tahun, perkembangan system penglihatan sudah mulai mendatar saja.
Maka, jika terjadi gangguan penglihatan pada masa awal perkembangan dan tidak dikoreksi, akan timbul apa yang dikatakan sebagai lazy eye atau mata malas (ambliopia).

Bila lazy eye ini, diketahui di atas usia perkembangan misalnya pada usia 12 tahun atau 10 tahun, walaupun dikoreksi secara maksimal dengan kacamata, tetap saja penglihatan anak tidak akan semaksimal anak-anak seusianya. Namun bila sudah terdeteksi di usia 6 tahun dan dikoreksi, segala ketertinggalannya masih bisa terkejar.

Karena itu, mencermati keluhan-keluhan pada mata anak sejak dini adalah satu tindak pencegahan yang sangat baik agar anak tidak mengalami kelainan mata permanen yang akan mengganggu aktivitas hidupnya kelak.
(Sarah Handayani/ Bahan : Rosita)






Print Article Print Artikel
Send to a friend Kirim ke Teman
Save as PDF Save as PDF
Rate this Article :

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10
Poor Excellent