Chitosan, Pengawet atau Suplemen Diet?

October 1, 2007
Rating : Average Rating : 2.00 From 3 Voter(s)


Baru-baru ini kita dikejutkan oleh penemuan kadar formalin yang berlebihan di sampel-sampel makanan di pasaran. Untuk mayat kok dibalur ke ikan asin? Tak pelak lagi, terjadi penurunan drastis pembelian bahan makanan suspect berformalin, seperti mie basah, ikan asin, dan tahu. Namun, bukan masalah namanya jika tanpa solusi. Pengawet aman seperti chitosan, beberapa penelitian mengungkapkan, dapat menggantikan formalin.

Chitosan adalah serat yang dihasilkan dari deasetilasi chitin, senyawa yang banyak diperoleh di kerangka luar (eksoskeleton) hewan Crustacea seperti udang, kerang, dan kepiting. Penelitian Peniston & Johnson tahun 1980 mengemukakan pada waktu itu sudah digunakan sebagai agen flokulasi untuk air dan penanganan limbah, pengkelat logam berat pada filtrasi larutan, dan pelapis serat kaca. Hingga tahun 1999, 2064 paten telah didaftarkan di Badan Paten Amerika Serikat (US Patent and Trademark Office) menyangkut penggunaan chitosan antara lain sebagai pancing ikan dan benang bedah ramah lingkungan (biodegradable), es krim rendah lemak, dan prostesis serta implan biodegradable. Di bidang farmasi, chitosan juga dapat digunakan dalam mikroenkapsulasi liposom, misalnya untuk insulin oral, agar absorbsinya lebih baik dalam tubuh penderita diabetes.

Dikenalnya chitosan secara umum lebih karena publikasi chitosan sebagai suplemen penurun berat badan oleh Arnold Fox dan Brenda Adderly tahun 1997. Sayangnya, penelitian mereka tidak didukung bukti uji klinis pada manusia, bahwa chitosan bertindak sebagai ‘pengikat’ lemak dalam tubuh dan memudahkan eliminasinya. Bukti yang ada hanyalah berkisar mengenai uji praklinik terhadap ayam dan tikus Wistar. Uji praklinik Tanaka dkk. pada tahun yang sama membantah argumen ini karena penelitiannya yang membuktikan penurunan flora usus normal yang signifikan setelah penggunaan chitosan, sedangkan Deuchi dkk. berhasil mengungkapkan absorbsi mineral dan elemen penting lain seiring dengan absorbsi lemak oleh chitosan. Sampai sekarang, penggunaan suplemen diet chitosan masih kontradiktif sehingga dibutuhkan penelitian lebih lanjut, terutama uji pada manusia, untuk membuktikan efektivitasnya.

Bagaimana peran chitosan dalam pengawetan makanan? Jurnal Jonathan Rhodes dan Bob Rastall menyebutkan tentang paten produk di Rusia yang menggunakan chitosan sebagai pengawet untuk kaviar, yang dinyatakan efektif dengan kombinasi masing-masing 0,1% chitosan dan asam sorbat. Penelitian lain oleh Muhannad Jumaaa dkk. tahun 2002 berhasil membuktikan kemampuan pengawetan chitosan untuk emulsi lemak yang dapat diaplikasikan dalam formulasi sediaan farmasi. Namun, banyak pula penelitian yang menyatakan penambahan chitosan tidak mempengaruhi masa simpan atau pertumbuhan mikroba dalam produk, seperti yang dilakukan oleh S. Roller & N. Covil di Inggris. Ada juga yang menyatakan kombinasi chitosan dengan pengawet lain baru dapat memberikan perbedaan efektivitas yang nyata. Lagi-lagi, masih banyak penelitian yang harus dilakukan untuk menggali lebih jauh kemampuan chitosan baik sebagai suplemen diet maupun pengawet makanan. Anda tertantang?






Print Article Print Artikel
Send to a friend Kirim ke Teman
Save as PDF Save as PDF
Rate this Article :

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10
Poor Excellent