Ekonomi Islam

October 6, 2007
Rating : Average Rating : 2.17 From 23 Voter(s)


Sudah menjadi kebiasaan kita umat Islam mengatakan bahwa dunia itu penipu. Tapi berapa orang yang sudah benar-benar lari dari tipuan dunia? Itu yang jarang berlaku. Bahkan tidak sedikit yang memandang besar terhadap dunia. Sementara akhirat dipandang kecil.

Dunia mengikut pandangan Islam ialah apa saja perkara atau amalan yang faedahnya tidak sampai ke akhirat, hanya habis di dunia saja. Dengan kata lain dunia ialah sesuatu yang tidak menjadi sebab kita mencapai keridhaan Allah. Artinya Allah tidak ridha. Kalau perkara dunia itu diredhai oleh Allah maka disebut akhirat. Yakni dunia yang sudah dijadikan     akhirat,  dijadikan alat atau jalan untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki dan kekal abadi di akhirat kelak. Sebab itu dalam Islam dunia dibedakan menjadi tiga bentuk:

1. Dunia yang dilaknat; yakni setiap perkara atau amalan yang haram dan wajib dijauhi.

2. Dunia yang menjadi fitnah; yakni setiap perkara atau amalan yang mubah yang dapat melalaikan kita dari Allah.

3. Dunia yang manfaatnya dibawa ke akhirat; yakni setiap perkara yang diperintahkan dan dibolehkan yang dibuat karena Allah.

 

Dunia yang menipu ada tiga bagian:

1.  Setiap perkara yang haram.

2. Setiap perkara yang dibolehkan yang tidak    dijadikan ibadah.

3.  Setiap amalan kebaikan yang secara lahiriahnya dituntut tapi dibuat bukan karena Allah.

 

"Allah menilai dunia sebagai suatu permainan atau suatu yang melalaikan."    (QS. Al Hadid : 20)

 

Lawan dunia adalah akhirat. Yakni setiap perkara atau pekerjaan yang manfaatnya untuk akhirat. Ia dapat menjadi sebab untuk mandapat keridhaan Allah dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Inilah yang penting untuk kita beri perhatian, bukan dunia yang melalaikan. Akidah, ibadah, akhlak, pendidikan, ekonomi dan berbagai kemajuan dalam segala bidang kehidupan yang diatur dan disusun mengikut peraturan Allah, itulah yang semestinya kita pandang besar. Semua itu datang dari Allah yang Maha Besar dan dipandang besar oleh Allah.

Tetapi malang manusia hari ini sangat memandang besar dengan dunia yang menipu dan melalaikan. Memandang besar dengan segala sesuatu atau aktivitas hidup yang di dalamnya ada kemaksiatan. Sunnah rasul dilecehkan. Sembahyang dipandang kecil ditangguh-tangguh dan tidak dijaga sungguh-sungguh. Hukum-hukum Allah tidak diperdulikan. Bahkan Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang mencipta, memelihara serta mencukupkan segala keperluan hidup manusia pun dilupakan. Mereka asyik dengan dunia yang sangat kecil dan tidak ada nilai disisi Allah.

 

Sungguh sangat merugi orang-orang yang meninggalkan Allah. Mereka akan ditinggalkan Allah. Ditinggalkan Allah kehilangan segala-galanya. Isteri yang cantik, harta yang melimpah, jabatan yang tinggi tidak ada arti dalam hidupnya, tidak memberi kebahagiaan di dunia. Di akhirat akan menjadi beban yang amat berat dan membawa manusia ke neraka.

 

Sudah saatnya kita umat Islam segera kembali kepada Allah. Segera menukar pandangan dan cara hidup jahiliah kepada cara hidup Islam, cara hidup yang sangat sesuai dengat fitrah manusia. Lebih-lebih di akhir zaman ini, di saat kebangkitan Islam sedang berlaku menuju kepada kemenangan yang gemilang. Muharram pun, yang di sepanjang sejarahnya banyak peristiwa besar berlaku, kini sedang kita lewati. Marilah kita jadikan Allah sebagai tujuan. Dunia kita jadikan sebagai alat untuk sampai kepada Allah. Kita jadikan Islam sebagai cara hidup, dan kita perjuangkan agar ummah kedua berlaku di tangan kita.

 

Satu tonggak sejarah yang merupakan anak kunci bagi kebangkitan ummah pertama adalah membangun sistem ekonomi Islam. Masyarakat Madinah dengan suqul Ansharnya cukuplah menjadi pelajaran bagi kita. Secara lahirnya tidak besar, sebesar "Masjid  Nabawi". sekarang. Tapi di sisi Allah ia besar. Ia dibesarkan oleh Allah Yang Maha Besar. Dari situ lahir ummah Islam pertama yang keindahan dan keagungannya masih dikenang hingga ke hari ini.

 

Keagungan dan kebesaran Islam hakikinya bukan terletak pada ketinggian ilmu pengetahuan, walaupun ilmu itu diperlukan. Juga bukan terletak pada kecanggihan teknologi dan kemajuan lahiriah. Semua itu adalah hikmah, Allah mudahkan memperolehnya bagi orang-orang yang bertakwa. Keagungan dan kebesaran Islam hakikinya terletak pada syariah, akhlak dan adanya khawariqul 'adah atau bantuan Allah, karena pemimpin, tim kepemimpinan dan rakyatnya sudah bertaqwa.

 

 

Kalau demikian halnya, mengapa kita mencari-cari model dalam membangunkan sistem ekonomi dan masyarakat Islam. Mengapa umat Islam lalai dari Allah dan mengorbankan syariat-Nya dalam meraih kemajuan? Mengapa akhlak Islamiah tidak wujud dalam kehidupan bermasyarakat Islam? Sadarilah, justru karena itulah umat Islam telah terhina selama ratusan tahun.

 

 

Untuk mengulangi sejarah masa lampau, meniti janji Allah bagi umat Islam di akhir zaman ini, marilah kita besarkan Allah. Hanya Dia yang layak dibesarkan. Syariat Allah lebih besar dibandingkan dengan undang-undang ciptaan manusia. Pemimpin yang Allah lantik dan jamaahnya jauh lebih besar disisi Allah, meskipun pengikutnya sangat sedikit, dibandingkan dengan pemimpin yang dilantik oleh manusia dan jamaah yang dipimpinnya. Sistem ekonomi Islam jauh lebih besar dibandingkan dengan sistem ekonomi kapitalis, sosialis atau yang lainnya yang direka oleh akal manusia.

 

Insya Allah, tidak lama lagi kita akan melihat kebesaran empire Islam. Kita akan melihat runtuhnya kebatilan dikalahkan oleh kebenaran. Kita akan melihat runtuhnya sistem ekonomi kapitalis digantikan oleh sistem ekonomi Islam. Allah telah menjanjikan kegemilangan Islam di akhir zaman. Maka kemenangan sistem ekonomi Islam dan keruntuhan sistem ekonomi kapitalis mustahil dapat dihalang. Inilah saatnya kita berjuang mencapai janji untuk meraih kemenangan. Allah mustahil ingkar janji.

 

 

KEUNTUNGAN EKONOMI ISLAM

 

Islam itu adalah agama kehidupan, dinul hayah,  atau the way of life. Bila dikatakan agama cara hidup, maka cakupannya luas. Segala apa yang terjadi pada kita itulah kehidupan. Salah satu aspeknya adalah berkecimpung dalam bidang ekonomi. Dari keseluruhan kehidupan, dari pengalaman yang telah kita lihat dan realitas yang terjadi dalam sejarah hidup, cakupan tentang ekonomi adalah paling luas. Kita dapat lihat setelah bangun tidur, selesai sembahyang,  kebanyakan manusia yang keluar rumah adalah untuk berekonomi dan berniaga. Sebab itu bangunan atau tempat yang mula-mula dihidupkan setelah subuh adalah pasar. Bangunan kantor dan sekolah belum dibuka selepas subuh. Di negara mana pun yang mula-mula beraktivitas adalah di pasar.

 

Perhubungan manusia antara satu sama lain yang paling banyak adalah melalui ekonomi. Begitu juga perhubungan negara dengan negara, kadang-kadang sebagian negara itu tidak akan mewujudkan kedutaan di negara lain, kecuali bila ada kepentingan ekonomi. Hal itu membuktikan dari keseluruhan kehidupan yang begitu luas di dunia ini, sebagian besar kehidupan adalah berekonomi.

 

Jadi bila dikatakan Islam adalah satu cara hidup, sebagian dari cara hidup itu terjadi dalam bidang ekonomi. Karena itu orang yang bercita-cita ingin memperjuangkan Islam, hendaklah membangunnya melalui berkecimpung di bidang ekonomi. Waktu kita menyelenggarakan ekonomi, kita terlibat dalam perhubungan dengan orang, terlibat di dalam jual beli, mengeluarkan barang, memberi uang pada orang, membeli dan menjual barang, membuat perjanjian dan lain-lain. Kalau kita tidak dapat menampakkan syiar Islam dalam aktivitas tersebut maka itu suatu indikasi bahwa ekonomi telah merusak keislaman kita. Kita tidak lagi menjadikan ekonomi sebagai salah satu aspek kehidupan secara Islam.

 

Kalau di rumah orang tidak melihat Islam sebagai cara hidup, begitu juga dengan di masjid dan di surau tetapi dalam jual beli kita dapat melihat Islam sebagai cara hidup sebab gelanggangnya luas. Jadi kalaulah orang dapat melihat Islam sebagai cara hidup ketika kita berkecimpung dalam ekonomi, maka hati kecil mereka akan berkata, "Dalam sibuk berekonomi, dia dapat mengamalkan Islam, apalagi kalau di mesjid, apalagi ketika sembahyang."

 

Karena itulah dalam Islam keuntungan yang dikejar dalam berekonomi bukan hanya keuntungan material, melainkan ada keuntungan-keuntungan lain yang bersifat lebih maknawi, karena dalam berniaga atau berekonomi  sebenarnya kita berada dalam beribadah kepada Allah. Kita sedang berpikir dan bersikap untuk menegakkan syariat dan akhlak. Sementara itu sembahyang adalah waktu-waktu kita memperbaharui ikrar, berazam, post mortem dan harapan untuk hidup dan mati adalah mencari taqwa dan mengabdikan diri kepada Allah. Dengan kata lain berniaga adalah manifestasi dari sembahyang, yakni hendak memperbesar, mem-perpanjang dan memperluas aktivitas syariat Allah.

 

Berikut adalah keuntungan-keuntungan dalam perniagaan yang dijalankan betul-betul dengan niat karena Allah, yaitu:

1.       Dapat berkhidmat dan menyediakan khidmat kepada masyarakat, bukan sekadar untuk mendapatkan uang dari pelanggan. Yakni dengan menyediakan barang keperluan mereka. Kita dapat pahala karena menyediakan khidmat tersebut.

2.       Dapat menyediakan makan minum serta keperluan asas yang halal. Apalagi kalau kita jual dengan harga yang tidak menekan. Bukankah masyarakat telah mendapat pertolongan ? Dan tidakkah kita merasa satu kemenangan dan kepuasan karena dapat menggembirakan manusia ? Bukankah dengan menggembirakan manusia maka nanti kita akan digembirakan oleh Allah.

3.       Dapat menjalin hubungan persahabatan di antara penjual dan pembeli. Bila masing-masing peniaga dan pelanggan saling merasa memberi dan menerima, saling merasa berterima kasih dan perlu memerlukan, maka terikatlah hati satu sama lain.

4.       Dapat bekerja sama dan bantu membantu di antara satu sama lain. Contoh di waktu peniaga sibuk karena ramai pelanggan sepatutnya pelanggan boleh membantu dengan mengambil sendiri barang keperluannya atau membantu mengemaskan meja ketika selesai makan. Sementara itu peniaga sebagai rasa terima kasih menghadiahkan sesuatu sekalipun kecil.

5.       Dapat belajar untuk bertolak ansur dan mengalah dengan orang. Dalam perniagaan perebutan antara penjual dan pelanggan sering terjadi. Penjual suka menipu atau menekan dengan menggunakan harga yang tinggi, semata-mata karena menginginkan untung cepat.  Padahal kalau dia lembut dan jujur, dia akan lebih beruntung. Untung dapat uang, untung dari segi akhlak.

6.       Ujian dalam berekonomi dapat melatih diri untuk sabar serta berharap pada Tuhan. Yakni menerima ujian-ujian dalam perniagaan dengan hati yang takut dan harap kepada Allah. Orang yang sabar akan mendapatkan rezeki dan pahala tanpa hisab.

7.       Dapat melatih untuk berlapang dada dan memaafkan orang dalam menghadapi ragam pelanggan. Sepanjang berurusan membeli dan menjual memang kita sering berhadapan dengan hal-hal atau orang-orang yang tidak menyenangkan. Maka pergunakan kesempatan ini untuk memperoleh keuntungan luar biasa yakni menjadi orang yang paling mulia karena memiliki akhlak yang baik.

8.       Dapat menyediakan peluang pekerjaan kepada masyarakat. Dapat pekerjaan artinya tidak menganggur sekaligus mendapatkan rezeki yang halal. Bahkan dengan berniaga tenaga manusia dimanfaatkan menjadi produktif demi memakmurkan masyarakat dan negara.

9.       Dapat membantu memasarkan barang orang Islam yang lain melalui jaringan perniagaan yang telah diwujudkan. Usaha-usaha memproduksi dan memasarkan barang-barang Islam cukup mulia, tergolong dalam menegakkan fardhu kifayah. Apalagi kalau kita dapat menyelamatkan barang yang terbuang dan mubazir.

10.   Dapat menegakkan syiar Islam melalui kemajuan yang dibangun melalui ekonomi. Menegakkan kemajuan duniawi secara Islam untuk memudahkan kehidupan adalah tanggung jawab semua orang selaku khalifah Tuhan. Dari sana orang akan dapat menyaksikan kebesaran Tuhan dan mereka dapat bersyukur. Tapi selagi umat Islam tidak menegakkan syiar Islam dalam kehidupan mereka terutama dalam bidang ekonomi, maka sulit bagi manusia untuk menganggap Islam itu hebat dan Allah itu Maha Kuasa.

11.   Dapat membantu fakir miskin serta orang yang memerlukan. Yakni membayar zakat sebagai salah satu dari rukun Islam. Dengan zakat kita dapat membantu fakir miskin dan asnab yang lain. Zakat bagaikan jembatan kasih sayang antara orang berada dengan yang memerlukan.

12.   Menambah ilmu dan pengalaman. Ilmu praktis tentang manajemen, keuangan, pendidikan, melayan konsumen serta menghadapi tantangan. Pengalaman pun berbagai jenisnya, dapat mengenal manusia, tempat, barang-barang dan nilai serta budaya.

 

Demikianlah keuntungan-keuntungan yang semestinya didapat oleh siapa saja yang berekonomi dengan niat karena Allah dan untuk menegakkan cara hidup Islam. Dengan begitu mereka mengumpulkan 2 keuntungan sekaligus yaitu untuk dunia dan akhirat. Mereka dapat menyeimbangkan material dan spritual. Maka terwujudlah satu tamadun yang sempurna untuk masyarakat manusia. Itulah Islam, satu sistem hidup yang dapat menjadi pengganti sistem kapitalis, yang sedang di ambang maut.¨

 

 

5 SYARAT AGAR BEREKONOMI DINILAI IBADAH

 

1.       Kita perlu meneliti niat kita apakah sesuai dengan syarat pertama. Siapkan niat yang betul untuk menunaikan perintah ALLAH serta untuk membantu anggota masyarakat agar mendapat manfaat dari perniagaan kita. Kalau perniagaannya berupa makanan, makanannya mesti  memudahkan umat Islam untuk membeli serta memenuhi keperluan hidupnya yang pokok, sedangkan kalau perniagaan kita berbentuk pelayanan masyarakat seperti pengobatan, notaris, penulisan dan  bentuk-bentuk layanan profesional lainnya maka niatnya mestilah untuk berkhidmat kepada anggota masyarakat Islam karena ALLAH. Kalau perniagaan kita tidak diwujudkan,  umat Islam akan susah karena terpaksa mendapatkan pelayanan dari orang yang bukan Islam. Begitu juga dalam bidang-bidang perniagaan yang lain di mana keberadaan perniagaan itu mesti diniatkan karena ALLAH dan memberi manfaat terutama untuk seluruh anggota masyarakat Islam. ngan demikian, kalau perniagaannya tidak membantu  masyarakat Islam mendapatkan keperluan asasnya, seperti perniagaan yang membawa kehancuran hidup maka sukarlah mengukuhkan niat yang betul.

2.       Kita pikirkan tentang pelaksanaan perniagaan, yaitu cara kita menjalankan perniagaan. Tentunya hal itu melibatkan kejujuran, amanah dan bersih dari amalan-amalan yang bertentangan dengan syariat Islam dan sebagainya.

3.       Kita perhatikan apakah dalam urusan perniagaan itu terhindar dari hal-hal yang tidak halal atau tidak mengikut syariat Islam, seperti perniagaan menjual arak, rokok dan sebagainya.

4.       Kita tinjau natijah (hasil) perniagaan itu di mana  kalau kita mendapat keuntungan, kita tidak mengabaikan zakatnya dan soal-soal pengorbanan serta turut membantu perjuangan menegakkan agama ALLAH serta membantu kaum yang miskin dan lemah.

5.       Kita perlu memikirkan soal-soal asas, yaitu dalam kesibukan kita menjalankan perniagaan kita tidak boleh melalaikan shalat, puasa dan sebagainya. Karena kesibukan itu tidak boleh dijadikan alasan untuk meninggalkan yang wajib.

 







Print Article Print Artikel
Send to a friend Kirim ke Teman
Save as PDF Save as PDF
Rate this Article :

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10
Poor Excellent