BLK Pesantren Membekali Santri Menembus Pasar Global

October 9, 2007
Rating : Average Rating : 2.00 From 1 Voter(s)


Pesantren menggarap Balai Latihan Kerja (BLK)? Siapa takut! Itulah semangat yang muncul ketika puluhan pimpinan pondok pesantren dari berbagai wilayah di pulau Jawa, Bali, Sumatera dan Nusa Tenggara Barat (NTB) berkumpul di Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyah, Batuceper, Tangerang, Senin (20/1) malam. Tekad mereka: meraih peluang bisnis dengan membuka Balai Latihan Kerja (BLK).

Adalah Menakertrans Jacob Nuwawea yang menggulirkan ide tersebut. Jacob yang dikenal memiliki dedikasi dan pengalaman yang cukup lama di dunia ketenagakerjaan di Indonesia sebelum menduduki jabatan menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi di era Kabinet Gotong Royong sekarang ini, memang banyak memiliki ide cemerlang untuk memajukan dunia tenaga kerja. Bahkan Jacob sering terlihat sebagai 'tenaga kerja' sesungguhnya dari pada seorang menteri jika berbicara soal ketenagakerjaan.



Dalam pandangan Jacob, pondok pesantren tidak hanya mendidik masalah keagamaan dan akherat saja, melainkan juga mendidik berbagai ilmu umum dan soal-soal kemasyarakatan. Karena itu, kata dia, pesantren sudah harus mencetak tenaga lulusan yang berkualitas. Untuk menunjang keperluan itu, pesantren harus memiliki semacam BLK yang bisa membekali santria dengan ketrampilan-ketrampilan praktis yang banyak dibutuhkan.


Ada di tiap provinsi

Mengingat membentuk BLK pesantren diperlukan dana yang tidak sedikit, Jacob mengusulkan untuk tahap awal didirikan satu BLK di tingkat provinsi. Misalnya, untuk provinsi DKI Jakarta, ada satu BLK khusus pesantren di Pesantren Ash-Shiddiqiyah. ''Sekarang tinggal terserah kepada pihak pesantren. BLK yang ada mau dikhususkan bidang bahasa atau komputer.


Kalau memang dikhususkan untuk bidang bahasa, mungkin nanti kita menyumbangkan komputer. Kita hanya mancing, kalau sudah ada tinggal ditambah. Misalnya dia mau pandai menjahit, kita bantu alat pelatihan menjahit,'' tuturnya usai menghadiri silaturahmi puluhan ulama dan pimpinan pondok pesantren di Ash-Shiddiqiyah, Batuceper, Tangerang, Senin (20/1) malam.

Jacob melihat potensi pesantren untuk melahirkan tenaga kerja handal cukup besar. ''Tadi ada seorang kyai bilang kepada saya, ternyata di Indonesia ini ada sekitar 16 ribu pondok pesantren. Kalau dari satu pesantren bisa seribu alumni yang dihasilkan, sudah berapa banyak yang bisa diserap melalui dunia pesantren. Ini, artinya sudah bisa mengurangi beban saya sebagai Menakertrans."

Menurut Jacob sistem pendidikan nasional di Indonesia kurang mendukung sehingga lulusan-lulusannya tidak sesuai dengan pasar kerja. ''Yang dibutuhkan kasar kerja lain, lulusannya lain. Bagaimana mungkin bisa ketemu. Karena itu menurut saya kurikulum pun harus disempurnakan,'' kritiknya.

Kalau dunia pendidikan belum mampu menyediakan tenga kerja yang diinginkan pasar, bagaimana dengan pesantren? Apakah lembaga yang diidentikkan penghasil para kyai ini bisa diandalkan?

Jacob merasa yakin pesantren bisa menghasilkan tenaga kerja yang dibutuhkan pasar. ''Karena mereka itu punya asrama 24 jam. Mereka punya ruang sekolah walaupun masih sederhana. Mereka pasti disiplin karena mendapatkan pelajaran agama yang benar. Sehingga saya pernah mengatakan, melalui pesantren kita menciptakan manusia berkualitas, bermoral,'' katanya optaimistis.

Sekolah perawat

Untuk tahap awal dan percobaan, BLK didirikan di pesantren Ash-Shiddiqiyah, Batuceper, Tangerang. Dalam pendirian BLK ini, peran Depnakertrans cukup besar. ''Kita membantu 20 mesin jahit,'' ungkap Jacob.

Ia lalu mengungkapkan hasil pertemuan dengan sejumlah pengasuh pondok pesantren Ash-Shiddiqiyah yang menginginkan dibukanya sekolah perawat. ''Saya menyarankan sekolah tinggi perawat. Sebab kalau sekolah perawat itu hanya dalam negeri, sedangkan sekolah yang mau mereka dirikan di sini itu saya sarankan untuk penempatan luar negeri, bukan penempatan di sini. Di dalam negeri 40 ribu perawat menganggur. Memang kendala untuk kerja di luar itu soal bahasa. Tapi kan saya yakin, kalau santri-santri di sini tidak ada masalah dengan bahasa, baik Inggris apalagi bahasa Arab,'' tegas Jacob.

Kalau dari segi ilmu sendiri, sambung Jacob, hampir sama. Namun demikian kata dia lebih lanjut, kalau bisa kurikulum yang akan dibikin merujuk kepada kurikulum yang ada di Timur Tengah, karena target yanag hendak dibidik adalah pasaran Timur Tengah yang banyak membutuhkan tenaga perawat. ''Mereka (calon perawat) harus bisa bahasa Arab dan Inggris. Karena orang Kuwait, Qatar, Uni Emirat itu berbahasa Arab dan Inggris. Jadi dua bahasa itu harus dikuasai oleh mereka. Mereka harus S1, kalau tidak kita akan kalah dengan Filipina.''

Jacob juga mengungkapkan, lulusan pesantren yang jumlahnya mencapai jutaan orang itu tidak semuanya memiliki bakat menjadi kyai, dai atau menjadi guru. Karena itu, tandasnya, sangat mungkin di antara para lulusan pesantren itu akan ada yang mampu membikin lapangan kerja. ''Itulah saya menghendaki ada pesantren yang membekali santrinya dengan keterampilan. Itu nanti akan kita bantu,'' tegas Jacob seraya menambahkan, kalau itu memang peminatnya banyak bisa saja di daerah lain ikut mendirikan BLK.

Pengasuh Pesantren Ash-Shiddiqiyah, KH Noer Muhammad Iskandar SQ, merasa senang dengan dipilihnya Pesantren Ash-Shiddiqiyah sebagai proyek percontohan BLK oleh Depnakertrans. Dalam pandangan kyai asal Banyuwangi Jawa Timur ini, sejak dulu sesungguhnya pondok pesantren sudah memiliki perhatian yang sangat tinggi terhadap semangat kemandirian di kalangan para santri. ''Sejarah mencatat, banyak di antara para santri yang bekerja di lingkungan pesantren seperti mencangkul sawah, menggembala hewan ternak dan pekerjaan lain sebagainya untuk bisa bertahan hidup. Pagi hingga siang hari, mereka bekerja untuk mencari biaya hidup di pesanatren. Malam hari mereka belajar sama kyai. Saya kira, tidak menjadi kendala bagi pesantren untuk mengembangkan BLK yang digulirkan Menakertrans tersebut. Insya Allah, ini akan menjadi percontohan yang terbaik,'' ujarnya.

Kiai Noer lalu menunjuk beroperasinya minimarket di lingkungan pesantren Ash-Shiddiqiyah Kedoya Jakarta. Dengan menyediakan berbagai kebutuhan sehari-hari mulai dari sabun, sikat gigi, hingga kebutuhan dapur seperti minyak, kecap, dan lain sebagainya, santri diajarkan bekerja sambil belajar. ''Insya Allah, para santri itu tidak kaget untuk bekerja karena memang mereka sudah dilatih. Tinggal bagaimana kesempatan itu dibuka untuk para santri,'' kata anggota DPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.

Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyah bukanlah satu-satunya pesantren yang mengepakkan sayap di dunia bisnis dengan mengajarkan cara praktis kepada anak didiknya. Pondok Modern Gontor Ponorogo Jawa Timur yang berdiri sejak tahun 1936, sudah sejak lama membuka kesempatan bagi para santri khususnya mereka yang duduk di bangku kelas akhir untuk belajar berwiraswasta dengan membuka Koperasi Pelajar (Kopel), Warung Pelajar (Wapel) maupun Koperasi Dapur (Kopda). Itu semua semata-mata diberikan, agar begitu para santri keluar dari pesantren tidak kaget masuk ke dunia nyata di masyarakat untuk bisa bekerja.

Sebuah peluang yang sangat baik tentunya kalau gagasan menakertrans ini bisa direalisasikan. Apalagi di tengah membengkaknya jumlah angka pengangguran yang mencapai lebih dari 42 juta orang. Mudah-mudahan gagasan ini menjadi oase untuk menyelesaikan persoalan bangsa dan bisa menjadi sarana meraih riyal maupun dolar di negeri orang dengan melahirkan kader-kader tenaga kerja yang handal melalu jalur pesantren. damanhuri zuhri


Sumber : Republika Online






Print Article Print Artikel
Send to a friend Kirim ke Teman
Save as PDF Save as PDF
Rate this Article :

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10
Poor Excellent